small but nice, simple but memorable

Tampilkan postingan dengan label lembaran cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lembaran cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

senandung maaf


Aku pernah bilang kalau sesuatu yang hanya muncul sepintas sepintas sangat berbahaya. Seperti ada magis yang memberi isyarat kalau hal ini harus kamu selesaikan atau dibiarkan terus berantakan. Apa adanya. Dan kamu tetap menikmati rasa.

Aku memang sedang menyusun tugas akhir perkuliahanku. Memang semua yang aku jalani selama proses penyusunan tidaklah mudah. Banyak hal yang terpaksa aku jalani. Dari hal yang aku suka dan tidak suka. Seperti biasanya aku datang kekampus, melakukan bimbingan, revisi ini itu, dan aku mulai muak. Hal yang terlihat tidak pantas memang harus diperbaiki namun lagi-lagi itu tidak pantas menurut dosen. Baiklah aku berusaha menjalani semua dengan suka cita. Hingga suatu ketika waktu itu datang. Aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat menjalani sidang akhir dan menurut dosen, skripsi ini sudah layak untuk diujikan. Tanda tangan dari dosen pembimbing dan ketua jurusan juga dengan mudah aku dapat.  Aku mulai menyusun pemberkasan. Mengumpulkan semua tetekbengek arsip semasa perkuliahan mulai dari KRS dan KHS. Kali ini keadaan lagi-lagi mengujiku, ada salah satu nilai yang tidak keluar pada transkrip nilaiku. Aku berusaha biasa saja dan mengadukan semua permasalahan ini ke bagian akademik. Untungnya akademik mengatakan bahwa ini bukan kesalahanku tetapi kesalahan sistem. Dengan proses yang cukup panjang aku mengurusi nilai itu. Kalau dipikir-pikir nilai yang aku urus ini tidak sebanding dengan keringat yang harus aku keluarkan. Tapi ini peraturan dan harus dipatuhi. Aku mengadukan hal ini kepada ketua jurusan, aku meminta kompensasi akan hal ini. tapi nyatanya aku belum boleh daftar sidang dalam waktu dekat. Aku harus menunggu semua permasalahan nilaiku selesai dan aku baru diizinkan untuk mendaftar sidang.

Tuhan ada apa lagi ini? mengapa Perjalanan menuju ‘kata aku bisa sidang’ begitu bergerigi?

Setahun lamanya aku menyusun skripsiku. Seharusnya memang ini merupakan prioritasku tapi karena aku terlalu sanguinis maka banyak waktu yang aku tunda, aku lebih memilih aktifitas lain yang lebih tidak membosankan dibanding hanya duduk seharian diperpustakaan dan mengetik berlembar-lembar halaman di depan laptop.

Kala itu aku kembali kekampus, berharap waktu bersikap baik kepadaku. Seperti biasa untuk mengisi dua jam kebosanan di bus kota, aku mendengarkan musik dan membaca buku. Hingga aku melamun kepada satu lagu yang mendorongku pada satu pemikiran, “mungkin karena ada orang yang belum sepenuhnya ikhlas”.

Aku memang bukan orang baik, tapi aku ingin semua orang memandang aku baik. aku memang sering membuat salah tapi aku tidak ingin dianggap salah. Itulah pemikiran egois semua orang termasuk aku. Akhrinya aku sadarkalau aku bukan sepenuhnya orang baik. tanpa sadar aku mungkin pernah berbuat salah kepada orang lain. mungkin ada orang yang belum memaafkanku.

Sepulang perjalanan aku memulai aksiku. Aku ingat ada satu orang yang mungkin merasa paling aku sakiti. Walau kejadian ini teramat silam namum ada suatu kekuatan yang mendorongku untuk meminta maaf kepadanya. Dengan begitu jantannya aku mengirimkan pesan singkat untuk memastikan bahwa nomor yang masih tersimpan di telepon genggamku ini masih jadi miliknya. Aku mengajaknya bertemu, tanpa memberi tahu tujuan utamaku ingin menemuinya. Aku tahu kini  ia sedang sibuk dengan rutinitas orang dewasa, makanya aku tidak ingin menentukan waktu untuk bisa menemuinya. Aku memintanya mengabariku jika ia punya waktu luang untuk menemuiku. Kini aku sedang menunggu kabar, kabar bahwa ia ingin menemui. Walau aku tahu, kabar tersebut belum tentu sampai kepadaku.

Tuhan, aku ingin menyelesaikan. Adakah kesempatan?



Read More

Selasa, 15 Maret 2011

47 hari

hingga 47 hari terlewati tanpa rasa. setengah pun tidak ada. hingga detik ini pun aku merasa tak punya dia, dia ada tapi aku meniadakan. entah bagian otak mana dari diriku yang rusak. ini diluar kuasa. aku pun berharap perasaan buruk ini tidak hadir untuknya. saat ini, dikala semua selendang telah hampir selesai dirajut. walau dengan benang tipis-tipis tak ada warna. abu-abu pun tidak ada. Tuhan.. beri sedikit rasa pada lidah yang kelu ini.
Read More

Minggu, 27 Februari 2011

satu bulan

maaf aku lupa..
tiga kata yang mewakili bulan pertama perjalanan kita. walau tanggal itu telah aku simpan dalam pesan pengingat di telepon selular, namun entah kenapa suaranya tidak terdengar sampai ke gendang telinga. mungkin aku terlalu lama masuk kejurang maya, makanya aku sampai lupa akan kehudidupanku di dunia nyata.
aku ucapkan terima kasih meski masih dibilang belia tapi ada banyak pelajaran yang bisa aku ambil dari kamu, kasih sayang, perhatian, bahkan sifat protes yang bikin aku ingin geleng-geleng kepala.

"semoga jejak yang kau tinggalkan mendekatkanku pada ketetapan"
Read More

Jumat, 04 Februari 2011

kesempatan yang (bukan) kebetulan

memasuki bulan kedua di tahun 2011 membawa aku kedalam suatu warna yang hampir semua warna aku rasakan. merah putih abu-abu hijau coklat ungu kuning orange biru hitam dan warna lain yang aku tidak ketahui apa namanya. di bulan ini aku mendapatkan yang orang-orang sering menyebutnya kesempatan. kesempatan yang datangnya secara kebetulan. lagi-lagi masalah kebetulan. aku mengenal mereka secara kebutulan yang berujung menjadi sebuah tantangan bisa juga dibilang pengalaman. pengalaman yang benar-benar baru. yang belum pernah aku sentuh sebelumnya.

berawal dari seorang senior yang bertanya tentang kesukaan ku terhadap travelling, lalu ia memberiku suatu penawaran untuk bergabung ke sebuah event organizer yang dipimpin oleh pacarnya. awalnya aku tidak menggubris secara serius untuk menerima tawaran tadi. kami bicara panjang lebar tentang travelling dan pengalamannya selama mengikuti eo tersebut. dari serangkaian ceritanya aku sungguh tertarik, bagaimana mungkin tidak. kamu bisa pergi kemana pun tanpa biaya bahkan akan dibayar. ibarat kucing yang disodorkan ikan otakku langsung menari-nari mengajak serangkaian saraf untuk bertidak dan menuliskan kata ya pada percakapan di chat.

setelah seminggu berlangsung pikiranku selalu tertuju pada penawaran yang disodorkan oleh seniorku kemarin, sampai-sampai aku meminta pendapat beberapa teman, mereka semua sih beranggapan sangat positif. maka atas motivasi itu aku memberanikan diri untuk mengirimkan pesan singkat yang isinya mengenai keinginanku untuk ikut serta dalam eo tersebut. tak terduga dengan sangat antusias seniorku memberikanku respon yang sangat menyenangkan yang membuat aku semakin ingin ikut serta. akhirnya kami kencan di hari rabu di kampus.

hari itu pun tiba, pukul dua lewat tiga puluh sembilan menit aku menemui seniorku. dia yang selalu tampil sangat unik dan nyetrik akan tampak terlihat walau dari kejauhan pun. aku menyapanya dan ia sangat ramah menyambutku. hati ku memberi salam bahwa ini merupakan aura yang positif untuk kesan pertama. baiklah aku lanjutkan perjalanan ini menuju suatu tempat yang biasa mereka sebut itu 'bunker'. nama itu merupakan sebuah panggilan sebuah tempat yang sangat tersembunyi. tidak terlalu besar namun bagi mereka memiliki fungsi yang besar. sebelum sampai disana aku berkenalan dengan salah seorang anggota, yang katanya ia yang akan mewawancaraiku sebagai syarat untuk masuk kedalam komunitas mereka. aku memperkenalkan diri tanpa berat hati.

kami tiba di bunker, tempat yang sangat tidak aku duga keberadaannya akan sangat tersembunyi ini. diapit oleh beberapa petak kost-kostan yang mengelilinginya semakin memberi kesan misterius tersendiri. aku memasukinya dengan sengaja mungkin ada magnet yang menarikku kesana. tapi aku merasa tak merasa akan menerima hal buruk meski jantung loncat-loncatan sambil bersuara deg-deg-deg. aku hiraukan ia.

menunggu-menunggu-menunggu waktu berjalan, jarum jam ditanganku juga berputar aku telah lama menunggu sampai waktu wawancara itu tiba. selama wawancara aku diberi sedikit penjelasan tentang sistem kerja dan pembagian tugasnya. lalu aku diminta mendeskripsikan keadaan diri. yang pasti hal-hal yang unik untuk dibahas. ada lagi tugas yang harus aku buat yaitu memberi contoh desain dan mengumpulkan cv semenarik mungkin serta membuat suatu narasi tentang objek pariwisata, untung saja masih minggu depan dikumpulnya. sejauh ini perjalanan wawancara cukup membuat aku nyaman dan tidak merasa keberatan. mungkin karena suasana dibuat senyaman mungkin makanya aku berplagiat mengikutinya.

selepas waktu wawancara selesai, aku diberi sebuah pilihan, ingin pulang atau mengikuti sebagian rapat yang akan berlangsung. karena hati yang memiliki nama penasaran hadir maka aku memilih pilihan kedua. aku diam ditempat. mereka membagi diri mereka menjadi beberapa tim. dan disana aku mulai kebingungan ingin mengikuti tim yang mana. akhirnya karena aku mengikuti saran senior ku aku ikut tim yang dinamakan tim 12. baru aku ketahui kalu ternyata nama itu di ambil karena akan menangani proyek penelitian sma negeri 12. rapat dimulai dan aku menyimak dengan seserius mungkin. hingga akhirtnya suatu pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang tim membawaku kedalam sebuah tantangan.

aku diberi tantangan menjadi salah seorang tutor di kelompok yang menamakan dirinya sebagai teknologi. baiklah ini awal dari suatu ujian yang akan membuat mereka percaya akan kemampuan yang aku miliki. aku menerimanya dengan senang hati. jadi jobdesk ku adalah menemani dan memberi pengarahan tentang teknologi secara umum dan khusus dalam suatu objek wisata. aku harus pintar nih, pikirku. objek wisata sejarah yang akan kami datangi adalah rumag si pitung di marunda dan situ babakan di depok. dua tempat yang memiliki suatu kesamaan dalam kebuadayaan. sama-sama dilatar belakangi oleh kebudayaan betawi. dengan kasus seperti ini aku harus menghubungkannya dengan teknologi. itu akan aku pikirkan nanti.

rapat selesai dan aku pulang, besok aku kembali untuk mengikuti survey ke marunda lokasi dimana rumah pitung berada. aku datang bersama tiga orang temanku. sejauh ini aku nyaman berada didekat mereka. kami tidak menghabiskan waktu banyak untuk datang kesana. tapi setidaknya dengan kesana aku memiliki sedikit gambaran. karena jujur aku belum pernah kesana.


kesempatan bisa saja datang secara kebetulan namun semua kebetulan ini tidak terjadi karena benar-benar kebetulan, ada campur tangan Tuhan disana. aku percaya hidup buka hanya suatu kebetulan. lalu buat apa ada garis tangan di kedua tanganku. para peramal sering melihat takdir disana bukan, dengan sok tau dia menebak apa yang akan terjadi nanti, itu juga bukan kebetulan. karena garis tangan manusia berbeda-beda. Tuhan memberi garis ini pada ku. maka akan aku genggam.

nasibku belum selesai, aku tidak tau bagaimana keberlanjutan hubunganku dengan tim mereka. yang jelas aku sudah diberi suatu kepercayaan untuk menjadi tutor di tanggal 12 nanti. semoga nasib baik menyertaiku.


Read More

Senin, 31 Januari 2011

white rose

seharusnya aku terkejut untuk hal yang sangat mengejutkan ini. malam itu rencana kami berjalan dengan sangat sesuai. aku berhasil membicarakan sebagian kemuakan yang selama ini aku sembunyikan. pada hari itu juga aku mengetahui alasan mengapa dia berubah sedemikian rupa.
hal yang membuat diriku sedikit bernafas lega, untuk melanjutkan hari-hari bersamanya.
malam itu ia memberiku sesuatu
tiga mawar putih, disertai foto diriku yang bertuliskan ungkapan sayangnya
jelas aku terkesima


Read More

hari ke lima

nanti setelah langit orange berubah jadi agak hitam akan terjadi sebuah pertemuan yang ditujukan untuk membicarakan sebuah keadaan yang baru beberapa hari ini aku peroleh.
jujur..
seharusnya aku bahagia akan hal tersebut, tapi apa yang terlihat. aku seperti tidak melihat dia pada dirinya. aku melihat orang lain yang membuat dia sangat berbeda.
sepertinya aku tidak sanggup untuk bercerita sedemikian detailnya, mengingatnya saja membuat aku ingin menjedot-jedotkan kepala.
semalam aku sudah bicarakan kepadanya tentang hal ini, hasilnya sia-sia. mungkin malam ini akan aku utarakan semua.

beberapa jam lagi aku pergi, menunggu ia menjemput. kami akan makan malam.
Read More

© vanilla essens, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena