kamu dimana?
Aku mengirim pesan singkat kepada
kedua teman yang padahal saat itu aku sedang bersama seorang teman. Bukannya aku
tidak suka bersama temanku tapi aku merasa tidak enak karena sudah terlalu lama
berada dirumahnya dan bila aku terus menerus dirumahnya aku selalu diberi
perlakuan spesial jadi aku sering tidak enak sendiri, tidak ingin merasa
merepotkan tepatnya.
Saat itu aku masih berada di meja
makan, bercengkrama dengan kedua orang tua temanku, aku selalu suka dengan
keluarga ini. Sangat ramah dan begitu hangat. Betapa bahagianya temanku memilki
keluarga seperti ini. Aku menengok handphone-ku lagi.
Kenapa sayaang?
Huft , dasar kamu selalu saja begitu.
Lagi dimana kamu?
Main yuk kemana gitu
Aku sedang engga bisa
gerak nih, mending kamu kerumah aku saja bawakan aku obat migran.
Kamu kenapa? Oke aku
akan segera kesana membawakanmu obat. Kamu makan dulu ya supaya nanti jika aku
sampai kamu bisa langsung minum obat dan istirahat.
Mendengar kabar temanku yang
seperti itu aku merasa panik, akhirnya temanku mengantarkan aku ke apotik untuk
membeli obat migran tersebut, dan aku segera bergegas kerumah temanku yang
sedang mengaku sakit.
Aku sudah tidak
apa-apa, sebaiknya kamu pulang saja.
Kamu yakin dengan
keadaanmu, aku sebentar lagi sampai rumahmu.
Sudahlah lebih baik
kamu pulang. Aku sudah lebih baik.
Iya aku akan pulang
setelah aku antarkan obat ini. Ini sudah malam dan aku sudah harus pulang. Aku tidak
akan lama-lama di rumahmu.
Akhirnya tiba aku dirumahnya,
bertemu dengan salah seorang temannya yang aku kenal. Aku memang Cuma akan
menitipkan obat itu untuknya dan segera pulang.
Selama perjalanan pulang kerumah
aku berpikir, mungkin kamu merasa enggan untuk menyambut kedatanganku, atau
kamu mungkin merasa asing atas perlakuanku seperti ini. Aku bukan siapa-siapa
tapi aku datang membawakan obat itu untukmu. Kita memang baru saja beberapa
bulan dekat, walau kamu aku kenal dari 11 tahun lalu yang ternyata baru
sekarang aku bisa mengenalmu lebih intim. Entahlah mungkin itu hanya
perasaanku. Kini kamu bermetafora menjadi seseorang yang aku anggap seru. Ada banyak
hal yang aku bisa pelajari darimu. Itu saja cukup. Kalau aku bilang aku
tertarik padamu, ya memang sih. Cuma ya hanya sekedar tertarik. Aku menjaga
perasaanku tidak sampai masuk ke fase yang lebih tinggi lagi. Aku belum siap
untuk menerima resiko yang harus aku hadapi bila aku benar-benar menaruh hati
padamu. hingga lamunanku pecah saat ada telepon berdering. Aku lihat layar
handphone dan itu kamu.
Kamu dimana?
Aku sudah dijalan
pulang
Kenapa kamu pulang? Kan
aku bisa antar kamu nanti, aku sudah baikkan
Obatnya sudah
diminumkan? Kamu sedang sakit mana mungkin bisa antar aku. Oh iya obat itu
diminum sesudah makan, jadi kamu harus makan dulu sebelum meminumnya.
Sudah aku minum dan
aku belum makan. Yasudah aku temani kamu sampai kamu tiba dirumah. Jangan tutup
teleponnya.
Tidak perlu,
buang-buang pulsa saja. Sudah ya aku lagi dijalan.
Lalu aku tutup teleponnya.